Apa itu Vertical Farming?
Vertical Farming adalah sebuah teknik bertani atau berkebun yang menggunakan lahan yang dibuat bertingkat secara vertical sedemikian rupa untuk memaksimalkan lahan pada suatu area. Konsep Vertical Farming secara Modern yaitu menggunakan indoor farming dan teknologi untuk mengontrol dan memonitor lahan. Konsep ini dapat menggunakan sinar matahari atau pencahayaan buatan (LED) yang dikontrol untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman, teknologi untuk mengontrol kondisi lingkungan seperti suhu, kelembapan, dll.

Bagaimana cara kerjanya?
Vertical Farming bisa menggunakan tanah sebagai wadah tumbuh akan tetapi yang lebih umum adalah menggunakan teknik aeroponik atau hidroponik dan ada juga yang menggunakan wadah tumbuh berupa gel nutrisi. Wadah-wadah tumbuh ini kemudian disusun pada rak secara vertical. Rak tersebut bisa berupa rak yang statis (tidak bergerak) atau menggunakan rak berbentuk segitiga atau huruf A yang dapat bergerak dan berotasi. Rak yang berotasi berfungsi untuk memaksimalkan dan meratakan penerimaan cahaya untuk seluruh tanaman.
Sumber cahaya yang digunakan bisa menggunakan cahaya matahari atau menggunakan cahaya buatan seperti LED. Untuk memaksimalkan cahaya buatan (LED) maka perusahaan akan menggunakan panjang gelombang cahaya tertentu untuk tanaman tertentu. Hal ini berfungsi untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman. Vertical Farm modern juga menggunakan sebuah sistem untuk memonitor dan mengontrol kondisi dari kebun seperti menggunakan pemanas dan pendingin agar kebun berada pada suhu optimal untuk pertumbuhan.
Tidak semua tanaman cocok ditanam pada vertical farm. Tanaman yang biasanya ditanam yaitu jenis sayuran hijau (selada, bayam, kangkung, kemangi, dll), tomat, stroberi, dll.

Keunggulan
– Mengurangi waktu, biaya, energi dan emisi dari distribusi pangan.
– Persiapan untuk masa depan. Pada tahun 2050 diperkirakan populasi dunia naik menjadi sekitar 10 milyar dan diperkirakan kebutuhan makanan naik setidaknya 60%.
– Meningkatkan jumlah produksi dalam suatu area.
– Produksi sepanjang tahun tanpa memperdulikan musim (pada daerah 4 musim).
– Perlindungan dari lingkungan (hama) dan cuaca ekstrim seperti badai, banjir, kekeringan.

Permasalahan
– Energi
Vertical Farm yang menggunakan cahaya buatan dan kontrol lingkungan (pemanas, pendingin, kelembapan, dll) membutuh listrik untuk dapat bekerja. Hal ini diperdebatkan apakah energi yang dibutuhkan sepadan dengan hasil yang didapat. Apakah hal itu lebih baik daripada menggunakan cahaya matahari secara langsung.
– Polusi
Apabila Vertical Farm menggunaan listrik yang berasal dari pembangkit listrik dengan bahar bakar tidak terbarukan seperti batu bara, maka Vertical Farm malah akan menyumbang polusi. Oleh karena itu, Vertical Farm harus dapat mandiri dengan menggunakan sumber tenaga terbarukan.
– Ekonomi
Vertical Farm modern menggunakan energi tambahan seperti menggunakan listrik untuk pencahayaan atau motor penggerak, biaya ini kemudian masuk dalam harga jual tanaman dan kadang harga jual menjadi jauh lebih mahal. Hal ini yang membuat produksi vertical farm kurang dapat bersaing dan kurang mendapat dukungan dari masyarakat.

Sumber Gambar :

  • www.skygreens.com

Sumber :

  • Despommier, Dickson. 2013. “Farming Up the City : The Rise of Urban Vertical Farms”. New York : Columbia University.

  • Banerjee, Chirantan dan Adenaeuer, Lucie. 2014. “Up, Up and Away! The Economics of Vertical Farming”. Germany : Journal of Agricultural Studies Vol. 2, No.1.

  • Kozai, T, dkk. 2016. “Plant Factory : An Indoor Vertical Farming System for Efficient Quality Food Production”. London : Elsevier.

  • https://vertical-farming.net/vertical-farming/vertical-farming-infographics/

  • http://www.nytimes.com/2008/07/15/science/15farm.html

  • http://www.skygreens.com/technology/

  • http://www.skygreens.com/skygreens-vegetables/

Departemen Media Publikasi Ilmiah

Lembaga Penelitian dan Kajian Teknik Aplikatif, FT UGM