Oleh:
Tiar Candra Wardaya
Teknik Fisika 2016

Plastik dibuat dari polimer, rantai dari grup molekul panjang yang berulang. Secara alami, polimer terdapat dimana-mana; dinding sel, sutra, rambut, serangga-serangga, juga DNA. Tapi, memungkinkan juga untuk mensintesisnya. Caranya adalah dengan memecah molekul crude oil menjadi komponen-komponen yang lebih sederhana dan menyatukannya kembali, kita dapat membentuk polimer sintetis yang baru.

Polimer sintetis memiliki sifat yang luar biasa; ringan, awet, dan dapat mudah dibentuk menjadi hampir bentuk apapun. Sintesis yang dilakukan tidak membutuhkan waktu pembuatan manual yang lama dibandingkan dengan material lain, sehingga plastik dapat dengan mudah diproduksi secara masal. Bahan dasar plastik ini tersedia dalam jumlah yang begitu melimpah dan sangat murah, sehingga dimulailah era keemasan ‘plastik’.

Bakelite digunakan untuk komponen mekanik, PVC untuk saluran air, bahan dasar komponen elektrik, dan juga wadah-wadah air. Akrilik yang anti-pecah dapat menjadi alternatif kaca, dan Nilon menjadi bahan dasar untuk stocking sampai perlengkapan perang. Hari ini, secara tidak disadari hampir segala sesuatu terbuat dari bahan plasti seperti pakaian kita, telepon genggam, komputer, furnitur-furnitur dan perkakas rumah, hingga body kendaraan.

Sekarang, plastik sudah tidak lagi menjadi material yang revolusioner, malah lebih cenderung menjadi sampah. Coffee cup, kantong plastik, pembungkus buah-buahan misalnya, kita tidak begitu memikirkan tentang fakta dibalik semua pemakaian plastik tersebut. Plastik yang terbuang biasanya tidak pernah begitu kita pedulikan dan hanya mengiranya hilang pergi jauh entah kemana, ternyata tidak. Selama polimer sintetis itu undecomposable, plastik akan memakan waktu sekitar 500 sampai 1000 tahun lamanya untuk dapat terurai oleh lingkungan (alam). Tapi, entah bagaimana, kita secara kolektif memutuskan untuk tetap menggunakan material undecomposable ini untuk sesuatu-sesuatu yang secara harfiah memang akan dibuang atau hanya sekali pakai (40% plastik digunakan untuk pengemasan produk). Di Amerika Serikat, pengemasan mencapai 1/3 dari semua limbah yang dihasilkan setiap tahunnya. Senjak inovasi plastik pertamakali ditemukan, kita telah memproduksi sekitar 8,3 milyar metrik ton plastik. Pada tahun 2016 sendiri, mencapai 335 juta metrik ton. Lebih dari 6,3 milyar metrik ton plastik sudah terbuang menjadi limbah ke lingkungan sejak tahun 1907. Jika limbah tersebut ditumpuk di satu tempat, akan menjadi sebuah kubus dengan panjang sisi 1,9 kilometer (6,9 kilometer kubik).

Sejauh ini apa yang sudah kita perbuat terhadap limbah plastik? 9% didaur ulang, 12% dibakar, dan 79% nya masih tetap bertahan di sekitar kita. Kebanyakan limbah ini berakhir di laut; sekitar 8 juta ton pertahun. Diprediksi akan lebih banyak plastik daripada ikan di lautan pada 2050. Karena hal tersebut, banyak hewan laut yang akan terjebak oleh limbah tersebut dan sebagian besar cenderung memakannya. Pada 2015, sudah 90% burung laut memakan limbah plastik. Banyak hewan yang ditemukan mati dengan kondisi perut yang penuh dengan sampah yang sangat sulit diurai tersebut. Pada 2018, Paus Sperma mati karena hal yang sama di Spanyol. Paus tersebut memakan 32 kilo sampah kantong plastik, jaring, dan tong plastik.

Seiring peristiwa tragis ini menjadi berita yang sangat fenomenal dan ironis, di sisi lain, sejumlah penelitian menemukan implikasi lain yang tidak kalah fenomenal. Tahukah anda kalau terdapat lebih banyak wujud plastik yang tak terlihat dan tersebar dalam jumlah yang sangat besar; itulah Mikroplastik.

Mikroplastik adalah pecahan plastik yang ukurannya lebih kecil dari 5 milimeter (karena cenderung pipih). Sebagian sebetulnya terdapat juga dalam kosmetik dan pasta gigi (diproduksi secara sengaja). Mikroplastik sebetulnya adalah limbah plastik yang mengapung di lautan dan terkena paparan Radiasi Ultraviolet secara terus-menerus, sehingga mengalami penguraian-pecah menjadi pecahan yang lebih kecil, dan lebih kecil lagi. Sekitar sebanyak 51 triliun kilogram partikel kecil tersebut diperkirakan mengapung di lautan. Karena ukurannya begitu kecil, partikel ini akan dengan mudahnya dimakan oleh hampir segala jenis kehidupan dan ekosistem lautan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran diantara para ilmuwan, terutama tentang resiko kesahatan dari bahan kimia yang melibatkan plastik sebagai wadahnya.

BPA misalnya, bahan kimia yang berfungsi untuk membuat botol plastik menjadi transparan, namun bahan tersebut dapat menyebabkan gangguan hormon pada manusia. DEHP, berfungsi untuk membuat plastik menjadi lebih fleksibel (elastis), tetapi dapat menyebabkan kanker. Bukankah fakta tersebut akan sangat mengerikan jika mikroplastik memiliki efek yang setoksik itu? Bagaimana jika rantai makanan kita ‘sekarang’ sebetulnya sudah terkontaminasi mikroplastik?.

Sederhananya, jika zooplankton (makanan biota laut yang paling umum) memakan mikroplastik, lalu ikan-ikan kecil, tiram, kepiting memakan zooplankton tersbut, lalu predator-predator ikan yang disajikan sebagai santapan kita akan terkontaminasi oleh mikroplastik. Sejauh ini penelitian menunjukan bahwa mikroplastik sudah ditemukan didalam madu, garam laut, bir, keran air, bahkan debu rumah tangga. 8 dari 10 bayi dan hampir semua orang dewasa memiliki jumlah Phtalates (aditif plastik umum), didalam tubuhnya. Dan 93% orang mengandung BPA pada urinnya. 

Sayangnya saat ini masih sedikit pengetahuan terhadap hal ini, dan sejauh ini masih belum mencapai kesimpulan beserta solusinya. Kita butuh lebih banyak riset sebelum kepanikan melanda. Hal tesebut membuat kita tidak bisa menyalahkan siapapun, yang berperan disini adalah manusia, namun kita tidak pernah berniat dan merencanakan hal semengerikan itu, sampai kita tau bahwa pencemaran plastik sudah melewati batas dengan efek yang luar biasa berbahaya. 

Referensi:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *