KAJIAN TEKNOLOGI “Analisis Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara”

Suasana Kajian Teknologi

Jembatan  merupakan suatu infrastruktur yang sangat berperan penting dalam menunjang kegiatan ekonomi dan sosial suatu daerah dengan dearah lain namun, apa jadinya jika jembatan tersebut berubah menjadi sesuatu yang berbahaya karena memakan korban jiwa?

Hal-hal tersebutlah yang dibahas dalam kajian teknologi bertajuk “Analisis Runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara” yang diselenggarakan oleh LPKTA pada tanggal 15 Mei 2012 lalu dengan pembicara Prof. Ir. Bambang Suhendro M.Sc selaku dosen Teknik Sipil UGM yang juga merupakan Tim Nasional Pencari Fakta dalam kasus jembatan Kutai Kartanegara yang runtuh pada tanggal 26 November tahun 2011 yang lalu.

Registrasi Peserta Kajian Teknologi

Sambutan Ketua LPKTA FT UGM

Jembatan gantung terpanjang di Indonesia ini dibuat tanpa bantuan dari luar negeri dan murni buatan Indonesia. Berbeda dengan jembatan – jembatan besar lain yang ikut melibatkan tim dari luar negeri dalam pembuatannya. Namun ternyata jembatan ini tidak berumur panjang dan runtuh akibat gagalnya sistem sambungan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Prof. Bambang Suhendro beserta 10 orang lainnya yang tergabung dalam Tim Pencari Fakta mengenai kasus ini, gagalnya sistem sambungan pada sisi hilir berasal dari satu permasalahan yaitu adanya penumpukan kendaraan di sisi hilir.

Prof. Bambang Suhendro menyampaikan analisis terkait runtuhnya jembatan Kukar

Berdasarkan data dan fakta yang terkumpul, berupa pengamatan visual, foto – foto keruntuhan, dokumen terkait, perawatan, pengujian material di laboratorium serta analisi ulang struktur, dapat disimpulkan bahwa terdapat indikasi yang kurang cermat dalam aspek perencanaan, pelaksanaan serta perawatan jembatan Kutai Kartanegara berupa kelemahan dalam desain, pelaksanaan yang kurang baik, dan struktur jembatan yang sudah dalam keadaan “sakit”.

Dalam aspek perencanaan, ternyata antisipasi pengaruh fatik (kelelahan) pada jembatan akibat beban siklik oleh angin dan kendaraan terutama antar sistem sambungan main cable dengan hanger belum dilakukan.Hal ini berakibat fatal karena sistem sambungan memilki efek domino yang dapat membuat sistem lain ikut runtuh ketika terjadi kegagalan pada sebuah sistem sambungan.Selain itu, adanya faktor stress concentration pada elemen system sambungan antara main cable dan hanger karena adanya perubahan bentuk geometri yang tajam atau tidak ada radius fillet yang mencukupi. Kedua hal tersebut memicu  initial crack  pada sistem sambungan yang terus berlanjut hingga sambungan akhirnya tidak lebih kuat dari yang disambung.Crack yang terbentuk tersebut jika bersifat menahun juga akan menjadi penyebab utama runtuhnya system samnbungan.juga belum diantisipasi.

Faktor utama dalam aspek pelaksanaan yang mengakibatkan kegagalan dalam system sambungan ialah pemilihan bahan yang kurang tepat. Bahan yang digunakan pada system sambuang haruslah bahan yang memiliki sifat ductile (lentur).Namun,bahan ynag digunakan pada jemabatn kutai ini ialah FCD – 60 yaitu cast iron atau besi tuak yang bersifat brittle (rapuh) sehingga tidak mampu menahan beban kejut/ impact yang dihasilkan oleh jembatan.Peraturan yang berlaku di negara maju seperti Jepang dan Amerika tidak memperkenankan FCD – 6o digunakan sebgai bahan dalam sistem sambungan sebuah jembatan.mereka memlihi FCD – 40 yang bersifat ductile (lentur) yang berasal dari cast steel.meskipun kekuatannya tidak sebesar FCD – 60 namun FCD 40 memilki sifat daktil yang baik sehingga cocok digunakan sebagai bahan dalam sistem sambungan.

Perawatan yang intensif pada jembatan juga sangat perlu dilakukan agar menjaga jembatan tetap berfungsi dengan baik.Pada jembatan kukar sendiri, perawatan yang dilakukan kurang intensif dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran pemerintah daerah akan perawatan jembatan sebagaimana mestinya.Hal ini memicu kelelahan pada jembatan sehingga jembatan kutai yang dinilai telah “sakit” terus mengalami kerusakan sehingga akhirnya runtuh di usia yang cukup cepat. Sedangakan di luar negeri, perhatian akan perawatan suatu infrastruktur vital di sebuah daerah cukup baik. Buktinya, jembatan yang ada di negara maju seperti Amerika memiliki jembatan yang berusia ratusan tahun dan masih berdiri hingga sekarang. Apa yang menyebabkan hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya hanyalah, mereka menatuh perhatian yang cukup dalam perawatan jembatan.Mereka tidak segan – segan mengeluarkan uang yang cukup besar demi perawatan jembatan tersebut.Sehingga jembatan yang ada di sana tetap berdiri dengan kokoh.

Untuk itu, maka Indonesia perlu belajar dari pengalaman pahit ini dengan meningkatkan kesadaran pemerintah maupun elemen masyarkat akan pentingnya perawatan sebuah infrastruktur yangbersifat vital seperti jembatan sehingga dapat meminimalisir kerugian yang akan ditimbulkan akibat kelalaian dalam perawatannya.

Suasana Kajian Teknologi runtuhnya Jembatan Kukar